GPMI-I Desak DPR Papua Tengah Bentuk Pansus Kemanusiaan untuk Intan Jaya

- Admin

Sabtu, 12 September 2026 - 20:48 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perwakilan Gerakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya se-Indonesia (GPMI-I) saat menyampaikan pernyataan sikap terkait kondisi masyarakat dan situasi konflik di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Dok_Alvi NT

Perwakilan Gerakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya se-Indonesia (GPMI-I) saat menyampaikan pernyataan sikap terkait kondisi masyarakat dan situasi konflik di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Dok_Alvi NT

Nabire, Papua Tengah || Nabireterkini.com — Gerakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya se-Indonesia (GPMI-I) kembali menyuarakan keprihatinan terhadap situasi konflik dan kondisi masyarakat sipil di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.

Melalui pernyataan sikap yang dikeluarkan di Nabire, Sabtu (12/9/2026), GPMI-I mendesak DPR Papua Tengah (DPR-PT) bersama Pemerintah Provinsi Papua Tengah segera membentuk Tim Panitia Khusus (Pansus) Kemanusiaan untuk menangani berbagai persoalan yang mereka sebut terjadi di Intan Jaya.

GPMI-I menilai konflik bersenjata yang berlangsung sejak 2019 hingga 2026 telah memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka menyoroti sektor keamanan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, hingga keberlangsungan aktivitas masyarakat sipil.

Menurut GPMI-I, kondisi keamanan yang berkepanjangan membuat sejumlah ruang publik dan fasilitas pelayanan dasar masyarakat tidak dapat berfungsi secara maksimal.

Soroti Kondisi Pendidikan dan Kesehatan

Dalam pernyataannya, GPMI-I menyebut berdasarkan data yang mereka himpun, sebanyak 52 dari 57 gedung sekolah di Intan Jaya mengalami kondisi yang mereka kategorikan lumpuh total.

Selain itu, organisasi tersebut menyebut enam dari tujuh gedung puskesmas mengalami kondisi serupa.

GPMI-I juga menyoroti pembangunan sekitar 34 pos militer yang menurut mereka terus meluas di delapan distrik.

Mereka menyatakan kondisi tersebut berdampak terhadap akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, pangan, air bersih dan mata pencaharian.

Namun, data dan sejumlah tudingan yang disampaikan GPMI-I tersebut masih merupakan klaim organisasi dan memerlukan verifikasi dari pihak-pihak terkait.

GPMI-I Soroti Pengungsian dan Warga Sipil

GPMI-I juga menyampaikan persoalan pengungsian masyarakat akibat konflik. Menurut mereka, pengungsian telah meluas hingga sejumlah kabupaten tetangga.

Kelompok tersebut menilai perempuan, anak-anak dan kelompok rentan menjadi pihak yang paling terdampak dalam situasi konflik berkepanjangan.

Selain persoalan pengungsian, GPMI-I menyoroti dugaan penangkapan dan pemeriksaan terhadap sejumlah warga sipil yang mereka nilai perlu mendapat perhatian serta pengawasan.

Dalam pernyataannya, GPMI-I menyebut tujuh nama yang menurut mereka baru-baru ini ditangkap aparat pada waktu yang berbeda, yakni Daud Sondegau, Yoas Japugau, Paskalis Belau, Rian Sondegau, Noti Sondegau, Melkias Hagisimijau dan Pius Emani.

GPMI-I meminta setiap tindakan terhadap warga sipil dilakukan berdasarkan hukum dan melalui prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga:  Aksi Mahasiswa Puncak di Nabire Terkendali, Kapolres Apresiasi

Desak DPR Papua Tengah Tindak Lanjuti Aspirasi

GPMI-I juga mempertanyakan tindak lanjut DPR Papua Tengah terhadap aspirasi yang telah mereka sampaikan pada 23 Juli 2026.

Mereka mendesak DPR-PT dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah segera membentuk Tim Pansus Kemanusiaan untuk melakukan penelusuran serta memastikan kondisi masyarakat di Intan Jaya.

Selain itu, GPMI-I meminta DPRD dan Pemerintah Kabupaten Intan Jaya menghentikan pembongkaran jalan Trans serta tidak mengabaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Organisasi tersebut juga menyatakan penolakan terhadap rencana kehadiran Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa di Intan Jaya pada 14–15 September 2026.

GPMI-I selanjutnya mendesak pihak TNI dan unsur keamanan yang bertugas di wilayah tersebut menghentikan tindakan yang mereka sebut sebagai penangkapan terhadap warga sipil secara sewenang-wenang.

Mereka juga meminta Panglima TNI dan Presiden Republik Indonesia mempertimbangkan pembubaran Kogabwilhan III.

Serukan Penyelesaian Melalui Mekanisme Resmi

GPMI-I menegaskan bahwa pembentukan Tim Pansus Kemanusiaan menjadi salah satu tuntutan utama mereka. Mereka meminta DPR Papua Tengah memberikan kejelasan mengenai tindak lanjut atas aspirasi yang telah disampaikan sebelumnya.

Dalam pernyataan sikapnya, GPMI-I menyebut akan mengambil langkah lanjutan apabila tuntutan tersebut tidak mendapat respons.

Organisasi itu menyatakan akan memobilisasi massa untuk menyampaikan aspirasi secara lebih luas. GPMI-I juga mencantumkan ancaman pembakaran terhadap Kantor DPR Papua Tengah dan Kantor Gubernur Papua Tengah apabila tuntutan mereka tidak diindahkan.

Ancaman tersebut merupakan pernyataan sikap organisasi dan belum menjadi tindakan yang terjadi di lapangan. Setiap penyampaian aspirasi tetap perlu dilakukan secara damai dan sesuai ketentuan hukum agar tidak menimbulkan persoalan baru.

GPMI-I menyatakan seluruh tuntutan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi masyarakat Intan Jaya serta dorongan agar pemerintah dan lembaga terkait mengambil langkah penyelesaian yang lebih serius.

Pernyataan sikap tersebut ditandatangani di Nabire, Papua Tengah, pada 12 September 2026 oleh Korlap Umum Jozan Sani, Wakorlap Bigauga Pogau, serta penanggung jawab Marten Hagisimijau, Melianus Sondegau dan Ayub Wandagau.

GPMI-I berharap DPR Papua Tengah dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah segera memberikan respons terhadap aspirasi tersebut serta membuka ruang dialog dengan perwakilan mahasiswa dan masyarakat Intan Jaya. (*)

Penulis : Arief Aw

Sumber Berita: Pernyataan Sikap Gerakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya se-Indonesia (GPMI-I), Nabire, Papua Tengah, 12 September 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel nabireterkini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Paniai Dukung Batik Paniai Tampil di Side Event Milan Fashion Week 2026
Polda Papua Tengah Dukung Polres Deiyai Kejar DPO
Situasi Kamtibmas Deiyai Kembali Kondusif, Aktivitas Warga Normal
Kapolres Deiyai Ungkap Hasil Penyelidikan, MM Masuk Daftar Pencarian Orang
DPC APRI Nabire Perkuat Kelembagaan dan Konsep Pertambangan Bertanggung Jawab
IPMADO Nabire Soroti Kasus Dogiyai Berdarah, Minta Pengungkapan Menyeluruh
Retribusi Sampah CFD Nabire Dipersoalkan, UMKM Minta Bayar Saat Jualan
Potensi Laut Papua Tengah Dipetakan Lewat SIBAPATENGA
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 22:03 WIT

Bupati Paniai Dukung Batik Paniai Tampil di Side Event Milan Fashion Week 2026

Senin, 28 September 2026 - 17:59 WIT

Polda Papua Tengah Dukung Polres Deiyai Kejar DPO

Senin, 28 September 2026 - 17:46 WIT

Situasi Kamtibmas Deiyai Kembali Kondusif, Aktivitas Warga Normal

Senin, 28 September 2026 - 17:40 WIT

Kapolres Deiyai Ungkap Hasil Penyelidikan, MM Masuk Daftar Pencarian Orang

Senin, 28 September 2026 - 17:21 WIT

DPC APRI Nabire Perkuat Kelembagaan dan Konsep Pertambangan Bertanggung Jawab

Berita Terbaru

Plt. Kabid Humas Polda Papua Tengah Kompol Henry J. Manurung, S.Sos., menyampaikan dukungan Polda Papua Tengah terhadap penanganan perkara di Polres Deiyai. Dok_Arief NT

Berita

Polda Papua Tengah Dukung Polres Deiyai Kejar DPO

Senin, 28 Sep 2026 - 17:59 WIT