Noken Duka dari Puncak: Mahasiswa Desak Penuntasan Kasus HAM

- Admin

Selasa, 28 April 2026 - 16:14 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa Puncak menyerahkan noken berisi simbol 10 korban tragedi Puncak kepada DPRPT di Papua Tengah, Senin (27/4/2026), menyoroti 10 korban tewas dan 9 luka-luka. (Dok. NT)

Mahasiswa Puncak menyerahkan noken berisi simbol 10 korban tragedi Puncak kepada DPRPT di Papua Tengah, Senin (27/4/2026), menyoroti 10 korban tewas dan 9 luka-luka. (Dok. NT)

Nabire, Papua Tengah || Nabireterkini.com — Dengan langkah tegas dan suara yang bergetar, Tim Investigasi HAM bersama Mahasiswa Puncak menyerahkan sebuah noken berisi dokumen aspirasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat Papua Tengah (DPRPT), Senin (27/4/2026). 

Noken itu tidak sekadar simbol budaya, tetapi menjadi representasi duka—memuat catatan “10 Nyawa Tak Berdosa dalam Tragedi Puncak”.

Aksi ini menyoroti tragedi kemanusiaan di wilayah Puncak yang menyebabkan 10 nyawa melayang dan 9 orang mengalami luka-luka. Massa datang dengan tertib, membawa pesan bahwa setiap korban adalah manusia yang harus mendapatkan keadilan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan data yang dihimpun tim, sedikitnya 10 warga sipil meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Kikungge Walia (50) meninggal akibat ledakan granat jenis cartridge kaliber 40 mm. Sementara itu, Tekimira Kogoya (37) mengembuskan napas terakhir setelah peluru menembus bahu hingga tulang belakang.

Selain itu, Inikiwewo Walia (50) meninggal akibat luka tembak di betis dan dada. Korban termuda, Para Walia (6), seorang anak laki-laki, kehilangan nyawa akibat luka tembak di bagian leher—sebuah fakta yang memperdalam luka kemanusiaan dalam tragedi ini.

Di sisi lain, sejumlah korban masih berjuang untuk pulih. Penditon Walia (3) dilaporkan dalam kondisi kritis setelah mengalami luka tembak di kaki dan hidung. Secara keseluruhan, sembilan warga mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.

Baca Juga:  Gubernur Meki Nawipa Ajak Pelajar Papua Tengah Jaga Budaya dan Jauhi Narkoba

Hingga kini, Mondokmbri Walia (48) belum ditemukan dan masih dinyatakan hilang.

Sekretaris Mahasiswa Puncak, Dei Murib, menyampaikan langsung kesaksian dari lapangan. Ia menegaskan bahwa suara korban tidak boleh berhenti di lokasi kejadian.

“Saya turun langsung ke lokasi operasi militer. Sepuluh nyawa ini mereka titipkan, dan saya bawa dalam noken ini. Ini tentang manusia, bukan kepentingan,” ujar Dei di hadapan massa.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa aksi tersebut bukan sekadar demonstrasi, melainkan upaya menyampaikan nilai kemanusiaan kepada para pengambil kebijakan.

Dalam aksi itu, Tim Investigasi HAM dan Mahasiswa Puncak menyerahkan tuntutan kepada DPRPT dan Majelis Rakyat Papua (MRP).

Mereka meminta pemerintah segera menyalurkan bantuan sembako secara terstruktur bagi pengungsi. Selain itu, mereka mendorong pembukaan layanan Palang Merah Indonesia (PMI) di Puncak, penyediaan akses pendidikan bagi anak-anak pengungsi, serta

layanan kesehatan langsung di titik pengungsian. Mereka juga mendesak pembentukan panitia

khusus untuk membawa kasus ini ke ranah hukum.

Setelah seluruh aspirasi disampaikan, massa aksi meninggalkan lokasi secara tertib.

Mereka kembali menggunakan 15 truk yang telah disiapkan panitia, dengan pengawalan guna memastikan perjalanan berlangsung aman.

Di balik barisan truk yang perlahan menjauh, tersisa satu pesan kuat: noken itu mungkin telah diserahkan, tetapi suara tentang sepuluh nyawa tidak akan hilang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel nabireterkini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

HUT Bhayangkara ke-80, Polda Papua Tengah Libatkan UMKM dan Masyaraka
Hoaks Bantuan Studi Akhir Beredar, Disdikbud Papua Tengah Beri Penjelasan
Pelajar Deiyai Tampilkan Mitos Koyeidaba dan Keindahan Alam pada Hari Ketiga Festival Cahaya Kreasi Pelajar 2026
Tari “Api Membawa Berita” Sukses Hidupkan Warisan Leluhur Nabire di Tengah Hujan
Kreativitas Pelajar Nabire Bersinar Lewat Fashion Show Budaya Papua
Titis Sulistiowati: Kuliner Lokal Perkenalkan Kekayaan Nabire
Mimika Angkat Pesan Perdamaian Lewat Tarian Kreasi di Festival Budaya Pelajar Papua Tengah
Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Nabire Layani Warga Terdampak Malaria di Teluk Umar
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 27 Juni 2026 - 06:34 WIT

HUT Bhayangkara ke-80, Polda Papua Tengah Libatkan UMKM dan Masyaraka

Sabtu, 27 Juni 2026 - 01:17 WIT

Hoaks Bantuan Studi Akhir Beredar, Disdikbud Papua Tengah Beri Penjelasan

Sabtu, 27 Juni 2026 - 00:52 WIT

Pelajar Deiyai Tampilkan Mitos Koyeidaba dan Keindahan Alam pada Hari Ketiga Festival Cahaya Kreasi Pelajar 2026

Sabtu, 27 Juni 2026 - 00:00 WIT

Tari “Api Membawa Berita” Sukses Hidupkan Warisan Leluhur Nabire di Tengah Hujan

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:06 WIT

Titis Sulistiowati: Kuliner Lokal Perkenalkan Kekayaan Nabire

Berita Terbaru