Nabire, Papua Tengah || Nabireterkini.com — Aparat gabungan TNI–Polri dan Satpol PP menggelar apel kesiapan pengamanan menjelang aksi demonstrasi mahasiswa yang mengatasnamakan IPMADO dengan tema “Tragedi Dogiyai Berdarah” di Nabire. Senin (11/5/2026).
Dalam pengamanan tersebut, sebanyak 700 personel diterjunkan untuk mengantisipasi jalannya aksi di sejumlah titik sebelum massa bergerak menuju Kantor DPR Papua Tengah.
Apel dipimpin langsung oleh Kapolres Nabire Samuel D. Tatiratu dan dihadiri unsur pimpinan pengamanan dari Dirsamapta Polda Papua Tengah, perwakilan TNI Angkatan Laut melalui Danlanal Nabire, serta jajaran Kodim 1705/Nabire.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam arahannya, Kapolres Tatiratu menekankan pentingnya kedisiplinan personel dalam menjalankan prosedur tetap (protap) pengamanan dan menjaga kendali komando di lapangan.
“Di mana padal berdiri, di situ anggota berada. Jangan terpisah. Gunakan pengeras suara sebagai tameng awal komunikasi kita di lapangan,” tegas Tatiratu.
Kapolres menjelaskan, pihaknya menerima dua surat pemberitahuan aksi. Pertama dari kelompok mahasiswa IPMADO yang akan menyampaikan aspirasi terkait perkembangan penanganan kasus di Dogiyai.
Massa direncanakan berkumpul di lima titik, yakni Uswim, SP, Jepara, Pasar Karang, dan Asrama Dogiyai, sebelum bergerak ke DPR Papua Tengah.
Bentuk aksi yang disampaikan dalam surat berupa orasi, teatrikal, dan pembagian selebaran tanpa rencana long march.
Namun, komunikasi antara aparat dan koordinator aksi disebut terhenti setelah insiden yang terjadi di Dogiyai sehari sebelumnya.
Surat pemberitahuan kedua berasal dari kelompok yang menamakan diri Forum Peduli Kabupaten Nabire yang juga akan menyampaikan aspirasi di DPR Papua Tengah dengan estimasi massa sekitar 200 orang.
Kapolres mengingatkan seluruh personel agar tidak terpancing provokasi apabila terjadi situasi tidak terkendali.
“Kalau ada bunyi tembakan atau lemparan, jangan panik dan jangan langsung mengarahkan senjata ke massa. Tarik mundur pasukan tanpa perlengkapan dan tunggu perintah,” ujarnya.
Ia juga meminta personel menjaga sikap selama bertugas, tetap dalam ikatan pleton dan regu, serta membangun sinergi antar unsur pengamanan.
“Kita satu barisan pengamanan. Rangkul rekan TNI, Polri, dan Satpol PP di lapangan,” katanya.
Selain itu, setiap satuan diminta menunjuk tim dokumentasi internal sebagai bahan laporan apabila terjadi pelanggaran di lapangan, serta mencegah simpatisan menguasai badan jalan yang dapat memicu penumpukan massa.
“Kalau badan jalan dikuasai massa, situasi akan sulit dikendalikan,” ucap Tatiratu.
Apel ditutup dengan penekanan pentingnya kesabaran, profesionalisme, dan kesiapan fisik personel dalam menjalankan tugas pengamanan.
“Tugas kita adalah bersabar, disiplin, dan profesional. Kita serahkan hasilnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” pungkasnya sebelum pasukan diberangkatkan ke titik pengamanan. (*)












