Nabire, Papua Tengah | Nabireterkini.com – Lapangan Mepa Boarding School SP 2 Kalisemen, Nabire Barat, mendadak hening saat seorang siswa berdiri tegap di tengah lapangan.
Dengan satu kaki, ia memimpin jalannya upacara Hari Pendidikan Nasional 2026 dengan penuh percaya diri.
Dialah Deki Degei (16), siswa kelas X yang menjadi pusat perhatian dalam peringatan Hardiknas ke-68 di Papua Tengah, Sabtu (2/5/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di hadapan Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, para guru, dan ratusan peserta upacara, Deki menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi keberanian untuk memimpin.
Dari Rasa Takut Menjadi Percaya Diri
Deki mengaku hanya memiliki waktu tiga hari untuk mempersiapkan diri. Ia berlatih keras bersama teman-temannya, mempelajari setiap komando dan gerakan baris-berbaris.
“Awalnya saya takut, tapi setelah latihan saya jadi berani,” katanya usai upacara.
Hari itu menjadi pengalaman pertamanya memimpin upacara, sekaligus momen yang tak akan ia lupakan.
“Saya bangga bisa pimpin upacara di depan Bapak Gubernur,” ujarnya.
Kisah di Balik Keteguhan
Di balik ketegapannya, Deki menyimpan kisah hidup yang tidak mudah. Saat masih berusia enam tahun di Jayapura, ia mengalami kecelakaan yang membuat kaki kirinya harus diamputasi.
Namun, ia memilih untuk bangkit dengan caranya sendiri
“Saya sering jatuh waktu kecil. Tapi saya tidak mau pakai tongkat. Saya mau belajar jalan sendiri,” ungkapnya.
Keputusan itu menjadi titik awal dari sikap mandiri yang terus ia pegang hingga kini.
Perjalanan Pendidikan yang Menguatkan
Sebelum bersekolah di Nabire, Deki menempuh pendidikan di SMP YPPK Bapoga, Paniai. Dukungan para guru di sana menjadi bahan bakar semangatnya untuk terus melanjutkan pendidikan.
Kini, ia melanjutkan pendidikan di Mepa Boarding School dan terus membuktikan kemampuannya.
“Guru-guru selalu dorong saya untuk tetap sekolah. Itu yang buat saya semangat,” tuturnya.
Apresiasi dan Harapan
Penampilan Deki mendapat apresiasi langsung dari Gubernur Papua Tengah.
“Saya bangga melihat semangat Deki. Keterbatasan bukan penghalang untuk tampil dan memimpin,” kata Meki Fritz Nawipa.
Gubernur bahkan menyebut Deki sebagai gambaran masa depan Papua.
“Anak-anak seperti inilah harapan Papua ke depan,” tambahnya.
Mimpi Besar dari Tanah Papua
Bagi Deki, pengalaman ini bukan akhir, melainkan awal dari mimpi yang lebih besar.
Ia ingin melihat pendidikan di Papua semakin maju dan merata. Karena itu, ia menyimpan cita-cita yang tidak biasa.
“Saya ingin jadi Kepala Dinas Pendidikan,” ucapnya dengan mantap.
Di tengah segala keterbatasan, Deki Degei berdiri sebagai simbol harapan. Ia tidak hanya memimpin upacara, tetapi juga memimpin cara pandang—bahwa pendidikan adalah milik semua, tanpa kecuali. (*)












