Dogiyai, Papua Tengah || Nabireterkini.com — Upaya menjaga stabilitas keamanan di tengah dinamika sosial terus diperkuat melalui komunikasi antara Polisi dan masyarakat di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.
Kehadiran tim Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Mabes Polri tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga membangun pendekatan humanis guna mempererat hubungan dengan masyarakat, (8/4/2026).
Bersama jajaran Polsek Kamuu, tim Divpropam menggelar pertemuan dengan tokoh masyarakat dan adat. Mereka mendorong dialog terbuka untuk mencegah potensi konflik sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi Polri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh lokal, di antaranya Derek Waine sebagai tokoh intelektual, Alex Waine selaku tokoh pemuda, serta para kepala kampung yaitu Yulianus Boby (Ikebo), Marthen Tebai (Dikiyowa), dan Ipo Gane (Ekemanida). Kehadiran para tokoh ini menjadi jembatan penting dalam menyampaikan aspirasi masyarakat.
Sekretaris Biro Provos Divpropam Polri, Kombes Pol Prianto Teguh Nugroho, menegaskan bahwa komunikasi terbuka menjadi kunci dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif.
“Kami ingin memastikan setiap persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik, sehingga tidak berkembang menjadi gangguan kamtibmas,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kehadiran Polri tidak semata berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga membantu masyarakat melalui pendekatan yang humanis dan membangun kepercayaan.
Dalam kesempatan itu, Kombes Prianto mengapresiasi peran aktif masyarakat, khususnya tokoh adat dan tokoh lokal, yang dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas wilayah.
Sementara itu, tokoh pemuda Dogiyai, Alex Waine, menilai komunikasi antara masyarakat dan Polisi masih perlu terus diperkuat. Ia berharap masyarakat diberi ruang lebih luas untuk terlibat dalam penyelesaian masalah, termasuk sebagai mediator di lapangan.
Menurutnya, beberapa peristiwa sebelumnya menunjukkan masih adanya kesenjangan komunikasi yang berpotensi memicu kesalahpahaman. Ia mencontohkan situasi saat penemuan jenazah yang sempat memicu ketegangan antara pemuda dan aparat.
“Upaya meredam situasi sudah dilakukan, tetapi koordinasi yang terbatas dan adanya pihak-pihak tertentu yang memperkeruh keadaan menjadi tantangan tersendiri,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Kombes Prianto menegaskan komitmen Polri untuk terus membuka ruang dialog yang lebih luas dan inklusif. Ia memastikan pendekatan humanis akan terus dikedepankan, seiring peningkatan profesionalisme anggota di lapangan.
“Pendekatan humanis dan profesional menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Polri,” tegasnya.
Melalui komunikasi yang intensif dan kolaboratif, Polri bersama masyarakat diharapkan mampu membangun sinergi dalam menjaga keamanan wilayah.
Pendekatan ini diharapkan tidak hanya meredam potensi konflik, tetapi juga memperkuat hubungan yang harmonis di tengah masyarakat Dogiyai. (*)












