Nancy Raweyai: Papua Bukan Tanah Kosong, Hak Adat Harus Dihormati

- Admin

Rabu, 13 Mei 2026 - 21:41 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nancy Natalia Raweyai Anggota DPR Papua Tengah Komisi II saat diwawancarai awak media setelah Nobar Pesta Babi di Asrama Puncak Nabire. Rabu (13/5/2026). Dok_Alvi. NT

Nancy Natalia Raweyai Anggota DPR Papua Tengah Komisi II saat diwawancarai awak media setelah Nobar Pesta Babi di Asrama Puncak Nabire. Rabu (13/5/2026). Dok_Alvi. NT

Nabire, Papua Tengah || Nabireterkini.com — Anggota DPR Papua Tengah Komisi II dari Partai NasDem, Nancy Natalia Raweyai, mengungkapkan suasana perasaannya usai mengikuti nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang digelar di Asrama Puncak, Jalan Jakarta, Nabire, Papua Tengah. Rabu (13/5/2026).

Nancy Raweyai menyampaikan apresiasi kepada panitia dan para pemuda yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut dengan baik serta menghadirkan ruang diskusi yang membuka wawasan tentang persoalan masyarakat adat di Papua.

“Saya patut mengapresiasi adik-adik dan panitia. Kegiatan ini berjalan sangat baik. Melalui film ini, kita diingatkan bahwa Papua bukan tanah kosong dan pentingnya menghormati hak-hak masyarakat adat,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, di era keterbukaan informasi saat ini, pemutaran film dokumenter seperti Pesta Babi justru memberikan pemahaman baru bagi generasi muda Papua tentang sejarah, politik, dan realitas sosial yang terjadi di tanah Papua.

“Sekarang ini semua sudah lebih terbuka. Melalui nobar ini, ada pemahaman bahwa Papua adalah produk politik, sehingga kebijakan politik harus benar-benar berpihak pada masyarakat adat,” tegas Nancy.

Ia menekankan bahwa setiap kebijakan negara, khususnya terkait pembukaan lahan dan pembangunan, tidak boleh mengabaikan keberadaan masyarakat adat yang telah hidup jauh sebelum negara ini ada.

“Ketika ada pembukaan lahan, negara tidak bisa serta-merta masuk karena ini bukan tanah kosong. Masyarakat adat harus menjadi pihak pertama yang diajak berbicara karena itu menyangkut wilayah kehidupan mereka,” jelasnya.

Terkait isi film, Nancy menilai bahwa satu film dokumenter memang tidak mungkin mencakup seluruh kompleksitas persoalan Papua yang telah berlangsung lebih dari 60 tahun.

Baca Juga:  BEM Nusantara Tuntut penarikan Militer Non-organik dan hentikan operasi Militer di Papua

Namun, film ini menjadi salah satu gambaran penting dari berbagai persoalan sosial yang terjadi.

“Papua sudah mengalami banyak persoalan selama puluhan tahun. Satu dokumenter tentu tidak bisa mencakup semuanya, tetapi ini adalah salah satu realitas sosial yang perlu kita pahami bersama,” katanya.

Ia juga menyoroti pesan kuat film tersebut tentang pentingnya menjaga hutan Papua yang merupakan salah satu kawasan hutan terbesar yang tersisa di dunia.

“Film ini seperti wake up call agar hutan Papua yang tersisa tidak ikut hancur. Alam ini adalah warisan kita bersama,” ungkapnya.

Kepada masyarakat adat, Nancy berpesan agar tetap solid dan membangun kolaborasi, terutama dengan generasi muda Papua yang dinilainya mampu menjembatani keterbatasan pemahaman kebijakan dan pendidikan.

“Generasi muda Papua yang luar biasa ini bisa menjadi jembatan untuk memperjuangkan keberpihakan terhadap masyarakat adat, terutama dalam memahami kebijakan dan aktivitas korporasi,” tuturnya.

Sebagai perempuan Papua dan pecinta lingkungan, Nancy mengaku sangat tersentuh secara emosional setelah menonton film tersebut.

Ia menilai bahwa kerusakan alam tidak bisa dipulihkan sepenuhnya, dan yang paling terdampak adalah perempuan serta anak-anak.

“Sebagai perempuan Papua, saya sangat sedih. Karena yang paling terdampak dari kerusakan alam ini adalah perempuan dan anak-anak. Alam tidak bisa memulihkan dirinya setelah dirusak manusia,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel nabireterkini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banggar DPRPT Disebut Rekomendasikan Gubernur ke Aparat, Sony: Kapan Rapatnya?
KNPB Nabire Siapkan Aksi 15 Agustus, Massa Direncanakan Longmarch ke DPR Papua Tengah
Peduli Pengungsi, Misael Sondegau Bagikan Sembako di Intan Jaya
Fransiskus Magai: Jangan Mudah Percaya Informasi Tanpa Sumber Jelas
Pemprov Papua Tengah Dorong Dialog untuk Selesaikan Persoalan Tambang KM 95 dan KM 102
Aspirasi Simapitowa Meepago Dibahas, DPR Papua Tengah Dorong Penegakan Hukum Tepat Sasaran
Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Bantah Isu yang Mengatasnamakan Banggar
KNPB Sentani Serukan Aksi Nasional 15 Agustus, Dorong Penyampaian Aspirasi Secara Damai
Berita ini 54 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 00:57 WIT

Banggar DPRPT Disebut Rekomendasikan Gubernur ke Aparat, Sony: Kapan Rapatnya?

Kamis, 13 Agustus 2026 - 00:00 WIT

KNPB Nabire Siapkan Aksi 15 Agustus, Massa Direncanakan Longmarch ke DPR Papua Tengah

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:23 WIT

Peduli Pengungsi, Misael Sondegau Bagikan Sembako di Intan Jaya

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:15 WIT

Fransiskus Magai: Jangan Mudah Percaya Informasi Tanpa Sumber Jelas

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:02 WIT

Pemprov Papua Tengah Dorong Dialog untuk Selesaikan Persoalan Tambang KM 95 dan KM 102

Berita Terbaru