Dari Bunyi Triton Menuju Pendidikan, Pesan Mendalam di Festival Pelajar

- Admin

Rabu, 24 Juni 2026 - 06:18 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para penari menampilkan Tari Triton dalam gladi persiapan Festival Pelajar Papua Tengah 2026. Tarian ini mengangkat filosofi triton atau tabura sebagai simbol panggilan persatuan, kebersamaan, dan pendidikan bagi generasi muda Papua. Dok_Arief NT

Para penari menampilkan Tari Triton dalam gladi persiapan Festival Pelajar Papua Tengah 2026. Tarian ini mengangkat filosofi triton atau tabura sebagai simbol panggilan persatuan, kebersamaan, dan pendidikan bagi generasi muda Papua. Dok_Arief NT

Nabire, Papua Tengah || Nabireterkini.com – Bunyi triton atau tabura yang dahulu menggema di pesisir Papua menjadi inspirasi utama dalam Tari Triton yang akan ditampilkan pada pembukaan Festival Pelajar Papua Tengah 2026 di Lapangan Bandara Lama Nabire.

Melalui garapan Sanggar AWDC Squad, Tari Triton tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga mengangkat nilai-nilai kebersamaan, persatuan, dan pentingnya pendidikan bagi generasi muda Papua.

Koreografer dan pendiri Sanggar AWDC Squad, Marjan Rumagesan atau yang akrab disapa Bang Ajan, menjelaskan bahwa konsep tari tersebut lahir dari cerita para orang tua mengenai fungsi triton pada masa lalu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendiri Sanggar AWDC Squad, Marjan Rumagesan. Dok_Arief NT
Pendiri Sanggar AWDC Squad, Marjan Rumagesan. Dok_Arief NT

Menurutnya, masyarakat pesisir Papua menggunakan triton sebagai alat komunikasi tradisional untuk memanggil warga berkumpul ketika ada kegiatan penting, musyawarah, maupun kebutuhan bersama lainnya.

“Dari cerita orang-orang tua, saya memahami bahwa bunyi triton bukan sekadar suara. Triton menjadi tanda panggilan yang menyatukan masyarakat. Dari situlah konsep tari ini kami bangun,” ujar Bang Ajan.

Dalam pementasan tersebut, penonton akan diajak mengikuti perjalanan kehidupan masyarakat Papua dari dua wilayah yang berbeda, yakni pegunungan dan pesisir.

Cerita diawali dengan kemunculan anak-anak dari pegunungan yang digambarkan keluar dari honai dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Pada saat yang sama, anak-anak dari wilayah pesisir hadir menggunakan properti perahu yang melambangkan kehidupan masyarakat pantai yang bergantung pada laut.

Baca Juga:  Arus Penumpang Meningkat, Kapolda Papua Tengah Minta Pelayanan Pelabuhan Tetap Tertib

Di tengah aktivitas masing-masing kelompok, bunyi triton kemudian terdengar. Suara itu menjadi simbol panggilan yang mengajak seluruh anak berkumpul tanpa memandang asal wilayah maupun latar belakang mereka.

Ketika seluruh penari berkumpul, tarian memasuki bagian utama yang menggambarkan persatuan, kebersamaan, dan semangat untuk belajar demi masa depan yang lebih baik.

“Triton kami maknai sebagai panggilan menuju pendidikan. Anak-anak dari pegunungan dan pesisir berkumpul untuk belajar bersama dan membangun masa depan Papua,” jelasnya.

Untuk memperkuat pesan tersebut, tim kreatif menggunakan sejumlah properti khas Papua, seperti honai, perahu, batu, dan tabura.

Selain itu, efek visual berupa asap panggung turut dihadirkan guna menambah suasana dramatik saat pertunjukan berlangsung.

Sebanyak 43 pelajar dari tingkat SD, SMP hingga SMA di Kabupaten Nabire terlibat dalam pertunjukan kolosal ini.

Mereka menjalani latihan intensif selama lebih dari satu bulan untuk menampilkan kisah budaya Papua dalam bentuk gerak tari yang atraktif dan edukatif.

Melalui Tari Triton, para penari tidak hanya menampilkan keindahan seni pertunjukan, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa persatuan, gotong royong, dan pendidikan merupakan fondasi penting dalam membangun generasi masa depan Papua yang lebih maju. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel nabireterkini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peduli Pengungsi, Misael Sondegau Bagikan Sembako di Intan Jaya
Fransiskus Magai: Jangan Mudah Percaya Informasi Tanpa Sumber Jelas
Pemprov Papua Tengah Dorong Dialog untuk Selesaikan Persoalan Tambang KM 95 dan KM 102
Aspirasi Simapitowa Meepago Dibahas, DPR Papua Tengah Dorong Penegakan Hukum Tepat Sasaran
Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Bantah Isu yang Mengatasnamakan Banggar
KNPB Sentani Serukan Aksi Nasional 15 Agustus, Dorong Penyampaian Aspirasi Secara Damai
Anev Semester I, Polda Papua Tengah Catat 1.755 Gangguan Kamtibmas
Kericuhan Warnai Penyaluran Dana Desa di Puncak, Polisi Perkuat Pengamanan
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:23 WIT

Peduli Pengungsi, Misael Sondegau Bagikan Sembako di Intan Jaya

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:15 WIT

Fransiskus Magai: Jangan Mudah Percaya Informasi Tanpa Sumber Jelas

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:02 WIT

Pemprov Papua Tengah Dorong Dialog untuk Selesaikan Persoalan Tambang KM 95 dan KM 102

Rabu, 12 Agustus 2026 - 20:53 WIT

Aspirasi Simapitowa Meepago Dibahas, DPR Papua Tengah Dorong Penegakan Hukum Tepat Sasaran

Rabu, 12 Agustus 2026 - 20:42 WIT

Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Bantah Isu yang Mengatasnamakan Banggar

Berita Terbaru