Kepala SMA YPK Tabernakel Perkuat Pembinaan Nasionalisme Usai Insiden Siswa

- Admin

Senin, 27 Juli 2026 - 20:24 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala SMA YPK Tabernakel Nabire, Drs. Suardiman Dayadi, M.Pd, menjelaskan kronologi, langkah pembinaan, dan sanksi edukatif terhadap siswa yang diduga terlibat dalam insiden pengibaran Bendera BK di Nabire. Dok_NT

Kepala SMA YPK Tabernakel Nabire, Drs. Suardiman Dayadi, M.Pd, menjelaskan kronologi, langkah pembinaan, dan sanksi edukatif terhadap siswa yang diduga terlibat dalam insiden pengibaran Bendera BK di Nabire. Dok_NT

Nabire, Papua Tengah || Nabireterkini.com – Kepala SMA YPK Tabernakel Nabire, Drs. Suardiman Dayadi, M.Pd, memastikan pihak sekolah mengambil langkah pembinaan terhadap sejumlah siswa yang diduga terlibat dalam aksi pengibaran Bendera Bintang Kejora di Kampung Waroki (Pintu Angin), Distrik Nabire Barat.

Suardiman menjelaskan, kegiatan belajar mengajar pada Sabtu berlangsung sesuai jadwal. Sekolah memulai dua jam pelajaran pertama di ruang kelas, kemudian melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler pada pagi hari. Seluruh rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 11.00 WIT.

“Setelah kegiatan ekstrakurikuler selesai, anak-anak sudah berada di luar jam sekolah. Karena itu, sekolah maupun guru tidak lagi mendampingi aktivitas mereka,” kata Suardiman saat diwawancarai Awak media, Senin 27 Juli 2026.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mengaku terkejut setelah menerima informasi mengenai keterlibatan sejumlah siswanya dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, pihak sekolah sama sekali tidak mengetahui rencana para siswa setelah kegiatan sekolah berakhir.

“Kami merasa prihatin karena persoalan ini berkaitan dengan nasionalisme. Saya sendiri kaget ketika dihubungi dan diminta hadir. Saat saya bertanya kepada mereka, mereka mengaku hanya ingin pergi ke pantai untuk bakar-bakar sekaligus mengikuti perekrutan anggota baru Ikatan Pelajar Pegunungan Tengah (IPPT),” ujarnya.

Meski demikian, Suardiman menegaskan sekolah tetap menjatuhkan sanksi. Namun, sekolah memilih pendekatan edukatif karena sebagian besar siswa yang terlibat masih duduk di kelas X dan baru memasuki jenjang SMA.

“Kami memberikan sanksi dalam bentuk pembinaan. Mereka masih berada pada tahap pencarian jati diri sehingga kami lebih mengutamakan pendidikan daripada hukuman yang berat,” jelasnya.

Selain itu, Suardiman menegaskan SMA YPK Tabernakel tidak mengizinkan organisasi di luar sekolah menjalankan aktivitas di lingkungan sekolah. Menurutnya, sekolah hanya mengakui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai organisasi resmi.

“Di sekolah kami hanya ada OSIS. Kami tidak memberikan izin kepada organisasi lain untuk beraktivitas di lingkungan sekolah,” tegasnya.

Namun demikian, ia mengakui sekolah memiliki keterbatasan dalam mengawasi seluruh aktivitas siswa di luar jam belajar. Saat ini, SMA YPK Tabernakel membina sekitar 560 siswa sehingga pengawasan setelah jam sekolah sangat bergantung pada peran keluarga dan lingkungan masyarakat.

Baca Juga:  Asisten I Setda Nabire Apresiasi Stand Up Comedy Kebangsaan, Dorong Generasi Muda Kreatif dan Percaya Diri

“Anak-anak hanya berada di sekolah selama beberapa jam. Setelah itu mereka kembali ke rumah dan lingkungan masing-masing. Karena itu, kami membutuhkan dukungan orang tua dalam melakukan pengawasan,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, sekolah segera memanggil orang tua seluruh siswa yang terlibat. Melalui pertemuan tersebut, sekolah akan menjelaskan kronologi kejadian sekaligus meminta setiap siswa membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya.

“Kami ingin orang tua mengetahui apa yang dilakukan anak-anak mereka. Kami juga memberikan peringatan keras agar muncul efek jera,” ujarnya.

Lebih lanjut, Suardiman mengatakan sekolah akan memberikan peringatan tegas kepada siswa kelas XII, termasuk mempertimbangkan hak mengikuti ujian apabila kembali melakukan pelanggaran berat. Sementara itu, siswa kelas X juga akan menerima pembinaan serta peringatan sesuai tata tertib sekolah.

Ia menambahkan, sanksi terberat di SMA YPK Tabernakel bukan berupa pemecatan, melainkan pengembalian siswa kepada orang tua. Menurutnya, kebijakan tersebut mengikuti ketentuan dunia pendidikan yang mengutamakan keberlanjutan pendidikan peserta didik.

“Kami menggunakan istilah mengembalikan siswa kepada orang tua. Kami tidak ingin memutus masa depan pendidikan mereka, tetapi kami tetap menegakkan disiplin sesuai aturan sekolah,” katanya.

Di sisi lain, Suardiman memastikan sekolah akan memperkuat pendidikan karakter, pendidikan agama, serta wawasan kebangsaan. Seluruh guru, khususnya guru Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), akan meningkatkan pembinaan kepada peserta didik.

“Setiap pagi kami melaksanakan ibadah, membaca firman Tuhan, dan berdoa bersama. Selain itu, kami terus menanamkan nilai-nilai nasionalisme melalui proses pembelajaran maupun kegiatan pembinaan karakter,” ungkapnya.

Ia berharap orang tua, sekolah, dan masyarakat dapat memperkuat kerja sama agar pembinaan terhadap generasi muda berlangsung secara berkelanjutan.

“Kami akan terus membimbing anak-anak agar memiliki karakter yang baik, cinta tanah air, dan tidak mudah terpengaruh oleh ajakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan,” tutup Suardiman. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel nabireterkini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peduli Pengungsi, Misael Sondegau Bagikan Sembako di Intan Jaya
Fransiskus Magai: Jangan Mudah Percaya Informasi Tanpa Sumber Jelas
Pemprov Papua Tengah Dorong Dialog untuk Selesaikan Persoalan Tambang KM 95 dan KM 102
Aspirasi Simapitowa Meepago Dibahas, DPR Papua Tengah Dorong Penegakan Hukum Tepat Sasaran
Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Bantah Isu yang Mengatasnamakan Banggar
KNPB Sentani Serukan Aksi Nasional 15 Agustus, Dorong Penyampaian Aspirasi Secara Damai
Anev Semester I, Polda Papua Tengah Catat 1.755 Gangguan Kamtibmas
Kericuhan Warnai Penyaluran Dana Desa di Puncak, Polisi Perkuat Pengamanan
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:23 WIT

Peduli Pengungsi, Misael Sondegau Bagikan Sembako di Intan Jaya

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:15 WIT

Fransiskus Magai: Jangan Mudah Percaya Informasi Tanpa Sumber Jelas

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:02 WIT

Pemprov Papua Tengah Dorong Dialog untuk Selesaikan Persoalan Tambang KM 95 dan KM 102

Rabu, 12 Agustus 2026 - 20:53 WIT

Aspirasi Simapitowa Meepago Dibahas, DPR Papua Tengah Dorong Penegakan Hukum Tepat Sasaran

Rabu, 12 Agustus 2026 - 20:42 WIT

Wakil Ketua III DPR Papua Tengah Bantah Isu yang Mengatasnamakan Banggar

Berita Terbaru