Mimika Angkat Pesan Perdamaian Lewat Tarian Kreasi di Festival Budaya Pelajar Papua Tengah

- Admin

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:59 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendamping kontingen Kabupaten Mimika, Salju Sandalinggi, memberikan keterangan kepada Nabireterkini.com di stan Kabupaten Mimika mengenai makna tarian kreasi. Dok_Arief NT

Pendamping kontingen Kabupaten Mimika, Salju Sandalinggi, memberikan keterangan kepada Nabireterkini.com di stan Kabupaten Mimika mengenai makna tarian kreasi. Dok_Arief NT

Nabire, Papua Tengah || Nabireterkini.com – Kontingen Kabupaten Mimika tidak hanya menampilkan keindahan seni tari pada Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Provinsi Papua Tengah Tahun 2026, tetapi juga menyampaikan pesan perdamaian melalui cerita yang diangkat dalam penampilan tari kreasi mereka.

Hal tersebut disampaikan pendamping Kabupaten Mimika, Salju Sandalinggi, saat diwawancarai Nabireterkini.com di stan Kabupaten Mimika pada Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Provinsi Papua Tengah di kawasan Bandara Lama Nabire, Jumat (26/6/2026).

Salju Sandalinggi mengatakan tarian kreasi yang dibawakan para pelajar mengangkat tema “Anak Kepala Suku yang Hilang Ditemukan Kembali”, sebuah kisah yang terinspirasi dari realitas kehidupan masyarakat Papua yang pernah menghadapi konflik akibat persoalan batas wilayah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, cerita tersebut menggambarkan situasi ketika konflik antarsuku memaksa masyarakat mengungsi, sehingga seorang anak kepala suku terpisah dari keluarganya dan menghilang.

“Dalam cerita itu terjadi konflik karena persoalan batas wilayah. Saat masyarakat mengungsi, anak kepala suku terpisah dan menghilang. Seiring berjalannya waktu, anak tersebut tumbuh dewasa dan kembali ke kampungnya,” ujar Salju.

Setelah kembali, tokoh anak kepala suku menyaksikan konflik yang masih terus berlangsung. Ia kemudian memilih menjadi penengah dengan mengajak kedua kelompok yang bertikai untuk menyelesaikan persoalan melalui dialog dan musyawarah.

Menurut Salju, pesan utama yang ingin disampaikan melalui tarian tersebut adalah pentingnya mengedepankan perdamaian dibandingkan permusuhan.

“Perdamaian jauh lebih baik daripada saling bermusuhan. Kita semua adalah orang Papua, sehingga setiap persoalan seharusnya diselesaikan melalui dialog dan saling menghargai,” katanya.

Baca Juga:  Kapolres Nabire: Aksi Penyampaian Aspirasi KNPB Berlangsung Aman dan Kondusif

Dalam alur cerita, upaya tersebut membuahkan hasil. Kedua kelompok akhirnya berdamai dan sepakat mengangkat kembali tokoh tersebut sebagai anak kepala suku sebagai simbol persatuan dan rekonsiliasi.

Ia menjelaskan bahwa konsep tarian tersebut sengaja disusun untuk mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, memahami bahwa setiap konflik memiliki jalan keluar apabila diselesaikan melalui komunikasi yang baik.

Selain menyampaikan pesan perdamaian, Salju juga mengapresiasi penyelenggaraan Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Provinsi Papua Tengah yang dinilainya menjadi ruang positif bagi pelajar untuk mengembangkan kreativitas sekaligus melestarikan budaya daerah.

“Festival ini sangat luar biasa. Harapan kami ke depan kegiatan seperti ini terus ditingkatkan. Kalau bisa jenis perlombaannya ditambah, misalnya lomba menyanyi lagu-lagu daerah sehingga semakin banyak potensi pelajar yang bisa ditampilkan,” ujarnya.

Ia juga berharap pada penyelenggaraan festival berikutnya unsur budaya lokal semakin diperkuat, terutama melalui penggunaan musik tradisional sebagai bagian utama dalam pertunjukan seni.

Menurutnya, perpaduan budaya tradisional dan kreativitas generasi muda akan menjadi kekuatan penting dalam menjaga identitas budaya Papua di tengah perkembangan zaman.

Kontingen Kabupaten Mimika sendiri telah berada di Nabire sejak Senin untuk melakukan berbagai persiapan menjelang perlombaan.

Sebanyak 18 pelajar didampingi dua guru pendamping mengikuti berbagai cabang lomba pada Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Provinsi Papua Tengah Tahun 2026.

Festival yang diikuti pelajar dari delapan kabupaten di Papua Tengah tersebut menjadi wadah untuk mempererat persaudaraan, menumbuhkan kreativitas, serta memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya sebagai identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel nabireterkini.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Anev Semester I, Polda Papua Tengah Catat 1.755 Gangguan Kamtibmas
Kericuhan Warnai Penyaluran Dana Desa di Puncak, Polisi Perkuat Pengamanan
TPNPB Klaim Aparat Masuk Gereja Saat Ibadah di Wuloni, Minta Hormati Kebebasan Beragama
IPSPJ Gelar Rapat Persiapan Penggalangan Dana Natal dan Program ADEM
Kepala Suku Simapitowa Ungkap Dugaan Tawaran Rp250 Juta Terkait Aktivitas di KM 102
KNPB Se-Lapago Ajukan Audiensi ke Pemerintah, Serukan Aksi Damai 15 Agustus
Polres Nabire Laksanakan Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Remaja di Waroki, 45 Adegan Diperagakan
Polres Nabire Ungkap 13 Kasus 3C, Amankan 104 Unit Sepeda Motor dalam Operasi Sikat Noken 2026
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 10:26 WIT

Anev Semester I, Polda Papua Tengah Catat 1.755 Gangguan Kamtibmas

Rabu, 12 Agustus 2026 - 00:02 WIT

Kericuhan Warnai Penyaluran Dana Desa di Puncak, Polisi Perkuat Pengamanan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:05 WIT

TPNPB Klaim Aparat Masuk Gereja Saat Ibadah di Wuloni, Minta Hormati Kebebasan Beragama

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:19 WIT

IPSPJ Gelar Rapat Persiapan Penggalangan Dana Natal dan Program ADEM

Selasa, 11 Agustus 2026 - 11:42 WIT

Kepala Suku Simapitowa Ungkap Dugaan Tawaran Rp250 Juta Terkait Aktivitas di KM 102

Berita Terbaru