Nabire, Papua Tengah || Nabireterkini.com – Kreativitas pelajar Kabupaten Puncak Jaya menjadi sorotan pada hari kedua Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Provinsi Papua Tengah Tahun 2026 yang berlangsung di kawasan Bandara Lama Nabire, Kamis (25/6/2026).
Melalui stan pameran budaya dan kuliner, para pelajar menghadirkan inovasi unik bertajuk Bakar Batu Blanga, sebuah perpaduan antara tradisi bakar batu khas Papua dengan metode memasak yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.
Festival yang diikuti delapan kabupaten se-Papua Tengah tersebut menjadi wadah bagi generasi muda untuk menampilkan kekayaan budaya daerah, mulai dari seni, kerajinan tangan, hingga kuliner tradisional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah beragam penampilan budaya, stan Kabupaten Puncak Jaya menarik perhatian pengunjung melalui konsep kuliner yang menggabungkan tradisi dan inovasi.
Jika selama ini bakar batu identik dengan penggunaan batu panas yang dimasak secara tradisional di alam terbuka, para pelajar Puncak Jaya menghadirkan pendekatan berbeda dengan memadukan unsur bakar batu dan penggunaan kompor modern dalam proses memasaknya.
Meski menggunakan peralatan yang lebih praktis, nilai budaya yang terkandung dalam tradisi bakar batu tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas masyarakat Papua.
Tidak hanya itu, bahan utama yang biasanya menggunakan daging babi juga diganti dengan daging ayam agar dapat dinikmati oleh seluruh peserta festival yang berasal dari berbagai latar belakang agama dan budaya.
“Kami tetap mempertahankan budaya bakar batu sebagai warisan leluhur, tetapi disesuaikan dengan kondisi saat ini. Daging babi diganti dengan daging ayam karena ada pelajar dan guru yang beragama Islam, sehingga semua dapat menikmati hidangan ini bersama-sama,” ujar salah satu pelajar di stan Kabupaten Puncak Jaya.
Menurut para peserta, inovasi tersebut merupakan bentuk adaptasi budaya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Selain memperkenalkan kuliner tradisional, penampilan tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan budaya melalui pendekatan yang kreatif dan inklusif.
Kehadiran Bakar Batu Blanga pun mendapat perhatian pengunjung yang memadati area festival. Banyak pengunjung terlihat mendatangi stan Puncak Jaya untuk melihat langsung proses penyajian sekaligus mengenal lebih dekat budaya kuliner masyarakat pegunungan Papua.
Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Provinsi Papua Tengah Tahun 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi antarpelajar, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya yang mampu memperkuat identitas generasi muda Papua Tengah di tengah arus modernisasi. (*)












