Nabire, Papua Tengah|| Nabireterkini.com – Suasana Asrama Puncak di Kabupaten Nabire dipenuhi antusiasme ratusan mahasiswa dan masyarakat saat kegiatan nonton bareng (nobar) film Pesta Babi digelar pada 13 Mei.
Meski sebelumnya sempat menimbulkan kekhawatiran karena isu pelarangan di sejumlah daerah, kegiatan ini berlangsung tertib dan sukses. Rabu (13/5/2026).
Inisiator kegiatan, Meki Tebai, menyampaikan bahwa kekhawatiran di awal tidak terbukti. Menurutnya, kegiatan berjalan aman karena dilaksanakan sesuai prosedur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Di awal saat flyer kegiatan beredar, banyak yang bertanya kepada saya, apakah kegiatan ini aman. Saya katakan, selama kita berjalan sesuai prosedur, kegiatan ini pasti aman. Dan puji Tuhan, hari ini nobar berjalan dengan lancar,” ujar Meki Tebai usai kegiatan.
Ia mengakui, film Pesta Babi memang sempat menimbulkan keresahan di beberapa daerah hingga dilarang pemutarannya. Namun menurutnya, Papua memiliki realitas sosial yang khas, sehingga film ini justru penting untuk ditonton oleh masyarakat, khususnya generasi muda.
“Papua punya realitasnya sendiri. Justru karena itu, menurut saya film ini wajib ditonton. Hari ini lebih dari 200 peserta hadir mengikuti nobar dan diskusi,” katanya.
Meki berharap kegiatan serupa tidak berhenti sampai di sini.
Ia bahkan merekomendasikan agar pemutaran film dilakukan secara lebih luas melalui layar tancap di ruang-ruang publik agar bisa diakses masyarakat umum.
“Harapan saya, bukan hanya di asrama-asrama mahasiswa, tapi juga di sekolah-sekolah dan ruang publik. Mungkin bisa digelar layar tancap di Taman Isika atau di kawasan pantai, supaya masyarakat luas bisa menonton dan memahami realita yang terjadi hari ini,” ujarnya.
Menurutnya, film ini membuka ruang refleksi bagi anak muda untuk memahami diri, tanah kelahiran, serta realitas sosial yang mereka hadapi.
“Film ini membuat generasi muda sadar bahwa penting menjadi diri sendiri di atas tanahnya sendiri. Bukan hanya bicara soal alam, tapi juga kehidupan sosial, budaya, dan jati diri,” ungkapnya.
Menanggapi pertanyaan soal alasan pelarangan film di sejumlah tempat, Meki menilai hal itu justru menimbulkan pertanyaan di ruang publik.
“Saya juga bertanya-tanya, kenapa film ini dilarang? Bisa jadi ada oknum-oknum tertentu yang merasa resah. Dari situ publik bisa menilai sendiri, siapa yang sebenarnya merasa terganggu dengan isi film ini,” pungkasnya. (*)












