Nabire, Papua Tengah || Nabireterkini.com – Semangat menjaga bumi dimulai dari langkah sederhana. Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, sejumlah komunitas pemuda di Kabupaten Nabire berkolaborasi menggelar aksi bersih-bersih sampah di kawasan Pasar Karang Tumaritis, Sabtu (6/6/2026).
Aksi sosial tersebut melibatkan Perkumpulan Tunas Selatan (PTS) Nabire, Komite Daerah (Komda) Papua Tengah, dan Kewita. Para relawan memulai kegiatan sejak pukul 06.00 WIT dengan titik kumpul di Taman Gizi Nabire sebelum bergerak menuju lokasi aksi.
Awalnya, panitia merencanakan kegiatan di beberapa titik, termasuk Pasar Oyehe dan Pasar Kalibobo. Namun, para relawan memusatkan kegiatan di Pasar Karang Tumaritis agar pembersihan dapat dilakukan secara maksimal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran para pemuda mendapat sambutan hangat dari para pedagang. Selain membantu membersihkan lingkungan pasar, kegiatan tersebut juga membuka ruang dialog antara komunitas dan masyarakat mengenai kondisi kebersihan serta fasilitas pasar tradisional di Nabire.

Salah seorang pedagang sayur, Emeliana Kegie, mengaku mengapresiasi aksi yang dilakukan para relawan.
Ia berharap pemerintah daerah lebih aktif memperhatikan kondisi pasar tradisional yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kami berharap pemerintah daerah turun langsung melihat kondisi pasar. Kalau pasar bersih dan tertata, maka wajah kota juga akan terlihat lebih baik,” ujarnya.
Menurut Emeliana, selama ini para pedagang kerap bergotong royong secara mandiri untuk memperbaiki sejumlah fasilitas sederhana, termasuk menimbun jalan yang becek dan membangun lapak jualan seadanya.
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi momentum refleksi bagi kalangan pemuda terkait kepedulian terhadap lingkungan.
Perwakilan PTS Nabire, Ani, menilai kesadaran generasi muda terhadap isu kebersihan masih perlu ditingkatkan.
Ia mengatakan Nabire memiliki banyak komunitas pecinta alam dan kelompok pemerhati lingkungan.
Namun, partisipasi aktif dalam kegiatan lingkungan dinilai masih belum optimal, terutama pada momen penting seperti Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
“Komunitas pecinta alam cukup banyak di Nabire, tetapi saat momentum seperti Hari Lingkungan Hidup Sedunia, belum banyak yang terlibat secara langsung. Padahal, isu lingkungan membutuhkan kerja bersama,” kata Ani.
Meski demikian, Ani menegaskan bahwa PTS Nabire terus berupaya menjaga konsistensi melalui aksi bersih-bersih yang rutin dilaksanakan dua hingga tiga kali setiap bulan.
Kegiatan tersebut mencakup pemilahan sampah organik dan nonorganik di sejumlah lokasi, seperti Pantai PLN Kalibobo, Lapangan SMP Negeri 5 Nabire, hingga kawasan wisata lainnya.
Selain mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, Ani juga mendorong pemerintah daerah untuk memberikan dukungan berkelanjutan kepada komunitas-komunitas yang selama ini bergerak secara sukarela dalam kegiatan pelestarian lingkungan.
Ia turut mengingatkan pentingnya membangun budaya LISA atau “Lihat Sampah Ambil” sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap orang dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Semua kembali pada kesadaran masing-masing. Kalau bukan kita yang menjaga lingkungan ini, siapa lagi,” ujarnya.

Senada dengan itu, perwakilan Komda Papua Tengah, Theresia Tegege, menekankan bahwa upaya menjaga kebersihan lingkungan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah daerah telah memiliki regulasi terkait pengelolaan sampah. Namun, implementasi aturan tersebut perlu didukung melalui sosialisasi yang lebih luas dan partisipasi aktif masyarakat.
“Kita tidak bisa hanya berharap kepada pemerintah. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Jika semua bergerak bersama, maka dampaknya akan jauh lebih besar,” tegas Theresia.
Melalui aksi kolaboratif tersebut, para relawan berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan semakin meningkat.
Mereka juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan. (*)
Penulis : Alvi












