Nabire, Papua Tengah || Nabireterkin.com – Persoalan sampah di Kabupaten Nabire masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan semua pihak. Di tengah meningkatnya volume sampah di ruang-ruang publik, kesadaran masyarakat untuk terlibat langsung dalam menjaga kebersihan lingkungan dinilai masih rendah.
Kondisi tersebut terlihat saat Komunitas Papua Trada Sampah (PTS) Nabire berkolaborasi dengan EcoNusa Jayapura menggelar aksi bersih-bersih di kawasan Pantai Nabire, Sabtu (20/6/2026).
Di tengah hamparan sampah yang berserakan di pesisir pantai, jumlah relawan yang terlibat dalam kegiatan tersebut terbilang sangat terbatas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Koordinator PTS Nabire, Jerry Oliver Simunapendi, mengatakan aksi bersih-bersih tersebut merupakan kegiatan ketiga yang berhasil dilaksanakan komunitasnya sepanjang tahun 2026.
Menurut Jerry, keterbatasan waktu menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi komunitas dalam menggelar kegiatan secara rutin. Sebagian anggota PTS Nabire memiliki kesibukan yang berbeda-beda, mulai dari bekerja di wilayah pedalaman hingga menjalani aktivitas sebagai mahasiswa.
“Kami baru bisa membuat aksi bersih-bersih untuk ketiga kalinya tahun ini karena kesibukan anggota. Ada yang bekerja di pedalaman, ada yang berstatus mahasiswa, dan kesibukan lainnya. Jadi kami menyesuaikan waktu luang teman-teman,” ujar Jerry kepada wartawan usai kegiatan.
Dalam aksi kolaborasi tersebut, PTS Nabire hanya diwakili oleh tiga orang relawan, sementara EcoNusa Jayapura mengirimkan satu orang perwakilan. Meski jumlah peserta terbatas, kegiatan tetap berlangsung sebagai bentuk komitmen terhadap upaya menjaga kebersihan lingkungan di Kabupaten Nabire.
Jerry mengaku bersyukur karena aksi tersebut tetap terlaksana. Namun, ia juga menyayangkan minimnya partisipasi masyarakat yang terlibat langsung dalam kegiatan sosial dan lingkungan.
“Kami sangat berterima kasih. Namun di sisi lain, kami melihat dari sekian banyak masyarakat di Nabire, ternyata hanya beberapa saja yang memiliki jiwa sosial dan peduli terhadap lingkungan sekitar,” katanya.
Ia menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab komunitas lingkungan atau pemerintah semata, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat. Menurutnya, dampak kerusakan lingkungan akibat sampah pada akhirnya akan dirasakan bersama.
“Sampah ini masalah kita semua. Kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan alam, kita juga yang akan kena dampaknya. Mari jaga sama-sama kita punya alam supaya alam juga menjaga kita,” tegas Jerry.
Selain mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan, PTS Nabire juga berharap adanya perhatian yang lebih besar dari Pemerintah Kabupaten Nabire terhadap komunitas-komunitas lingkungan yang selama ini bergerak secara mandiri.
Jerry menjelaskan bahwa seluruh kegiatan yang dilakukan PTS Nabire hingga saat ini masih berjalan menggunakan dana swadaya dari para anggota.
Kondisi tersebut membuat ruang gerak komunitas menjadi terbatas dalam menjalankan berbagai program lingkungan.
Meski demikian, PTS Nabire menegaskan bahwa pihaknya tidak meminta bantuan dana secara langsung. Sebaliknya, mereka berharap pemerintah dapat membangun sistem kolaborasi dan fasilitasi yang berkelanjutan untuk mendukung pengelolaan sampah di daerah.
“Kami berharap ada kolaborasi dan kerja sama ke depan. Kami tidak meminta bantuan uang, tetapi bantuan solusi dan fasilitasi. Bagaimana agar sampah-sampah ini bisa dikelola lagi dengan baik daripada hanya dibuang dan dipindahkan ke tempat lain,” ujarnya.
PTS Nabire meyakini bahwa penanganan sampah tidak cukup hanya melalui kegiatan pembersihan sesaat.
Diperlukan sistem pengelolaan yang terintegrasi, edukasi kepada masyarakat, serta kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat agar persoalan sampah dapat ditangani secara berkelanjutan.
Melalui aksi sederhana di Pantai Nabire, komunitas tersebut berharap kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan terus tumbuh.
Sebab, lingkungan yang bersih bukan hanya menciptakan kenyamanan, tetapi juga menjadi warisan berharga bagi generasi yang akan datang. (*)
Penulis : Alvi












