Nabire, Papua Tengah | Nabireterkini.com – Hujan deras yang mengguyur arena Festival Cahaya Kreasi Pelajar Papua Tengah 2026 tidak menyurutkan semangat para penari asal Kabupaten Nabire. Mereka tetap menampilkan tari kreasi berjudul “Api Membawa Berita untuk Anak Kepala Suku yang Hilang dan Ditemukan Kembali” dengan penuh penghayatan.
Penampilan tersebut mendapat sambutan hangat dari penonton yang bertahan hingga akhir acara. Melalui tarian ini, para penari menghadirkan kembali nilai-nilai luhur masyarakat adat Nabire.
Pembimbing tari, Marthen Luther Wengge, saat diwawancarai di Bandara Lama Nabire, Jumat (26/6/2026), menjelaskan bahwa karya ini terinspirasi dari kisah seorang kepala suku yang kehilangan anaknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam proses pencarian, masyarakat memanfaatkan api dan asap sebagai media komunikasi tradisional untuk menyampaikan kabar ke kampung-kampung lain.
“Melalui tarian ini kami ingin menceritakan bagaimana leluhur masyarakat Nabire memanfaatkan api dan asap sebagai alat komunikasi tradisional. Kisah ini berakhir dengan ditemukannya kembali anak kepala suku sebagai simbol harapan, persatuan, dan kebersamaan,” ujar Marthen.
Ia menambahkan, api melambangkan cahaya, harapan, dan pemersatu masyarakat, sedangkan asap menjadi penanda yang menggerakkan warga untuk membantu proses pencarian.
Pertunjukan diawali dengan musik tradisional bertempo lambat yang memadukan tifa, bambu, tabura, dan seruling.
Suasana semakin dramatis ketika api dinyalakan dan asap membumbung, lalu para penari muncul dari berbagai arah panggung mengikuti kepulan asap.
Puncak pertunjukan terjadi saat kepala suku bertemu kembali dengan anaknya, yang menggambarkan rasa syukur, kasih sayang, dan kekuatan persatuan.
Setelah itu, seluruh penari menutup penampilan dengan tarian sukacita menggunakan properti tradisional khas Nabire.
Marthen menegaskan, pertunjukan ini bertujuan memperkenalkan budaya Nabire kepada generasi muda sekaligus mengajak masyarakat menjaga alam dan melestarikan warisan leluhur.
“Tarian ini kami persembahkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada leluhur. Kami berharap generasi emas Nabire terus menjaga seni, budaya, dan kekayaan alam daerah ini,” tuturnya.
Di tengah hujan, para penari membuktikan bahwa budaya tetap hidup dalam semangat generasi muda Nabire. (*)












