Nabire, Papua Tengah || Nabireterkini.com – Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) Kota Studi Nabire menyerukan kepada pelajar, mahasiswa, dan masyarakat asal Dogiyai untuk tidak terlibat dalam kegiatan pawai maupun konvoi terkait perhelatan Piala Dunia yang berlangsung di Kabupaten Dogiyai maupun Kota Nabire.
Seruan tersebut disampaikan Ketua Asrama Putra Dogiyai Kota Studi Nabire, Marius Petege atau yang akrab disapa TipeX, saat memberikan keterangan di Asrama Putra Dogiyai, Jalan Dosa, Bumi Wonorejo, Nabire, Rabu (10/6/2026).
Menurut Marius, masyarakat Dogiyai hingga saat ini masih berada dalam suasana duka pasca-peristiwa yang mereka sebut sebagai “Dogiyai Berdarah” yang terjadi pada 31 Maret hingga 2 April 2026. Karena itu, ia menilai berbagai bentuk perayaan dan euforia belum menjadi prioritas bagi masyarakat yang masih menuntut kejelasan atas kasus tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dogiyai masih berduka. Karena itu, kami mengajak seluruh pelajar, mahasiswa, dan masyarakat untuk tidak ikut dalam konvoi maupun pawai yang berkaitan dengan Piala Dunia. Saat ini fokus kami adalah memperjuangkan keadilan bagi para korban,” kata Marius.
Selain itu, Marius juga mengkritik keterlibatan sejumlah pimpinan daerah yang mengikuti kegiatan euforia sepak bola di tengah situasi yang menurutnya masih menyisakan persoalan kemanusiaan di Papua Tengah.
Ia menilai para pemimpin daerah seharusnya lebih mengutamakan perhatian terhadap masyarakat yang terdampak konflik serta keluarga korban yang hingga kini masih menunggu kepastian proses hukum.
Lebih lanjut, Marius menyebut bahwa masyarakat Dogiyai masih menaruh perhatian besar terhadap proses penegakan hukum terkait lima warga sipil yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
Menurutnya, berbagai aksi penyampaian aspirasi telah dilakukan, namun masyarakat masih menantikan perkembangan lebih lanjut dari proses yang sedang berjalan.
“Kami masih menunggu kejelasan mengenai proses hukum dan tindak lanjut terhadap tuntutan yang telah kami sampaikan. Aspirasi masyarakat sudah disuarakan dan kami berharap ada perhatian serius dari pihak-pihak yang berwenang,” ujarnya.
Sementara itu, terkait perkembangan advokasi, Marius menjelaskan bahwa laporan dan aspirasi masyarakat telah disampaikan kepada lembaga pengawas hak asasi manusia.
Namun, menurutnya, proses tersebut masih memerlukan tindak lanjut di tingkat yang lebih tinggi.
“Laporan sudah sampai ke Komnas HAM dan kami berharap proses ini terus berjalan hingga memperoleh kejelasan yang diharapkan masyarakat,” katanya.
Sebagai bentuk konsolidasi sikap, IPMADO Kota Studi Nabire juga menyebarkan selebaran bertajuk ‘Warning! Stop Bergaya di Atas Derita, Tangisan Rakyat Dogiyai’. Melalui selebaran tersebut, organisasi mahasiswa itu mengajak masyarakat untuk lebih fokus mengawal isu kemanusiaan dan penegakan hukum di Tanah Papua.
Menurut Marius, perjuangan untuk memperoleh keadilan membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, IPMADO mengajak masyarakat untuk tetap menjaga solidaritas dan terus menyuarakan aspirasi secara damai sesuai ketentuan yang berlaku.
“Harapan kami sederhana, yaitu hadirnya keadilan dan perhatian terhadap masyarakat yang masih merasakan dampak dari peristiwa yang terjadi. Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengedepankan nilai kemanusiaan,” tutupnya.
Seruan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa Dogiyai untuk menjaga perhatian publik terhadap proses penegakan hukum yang masih berlangsung.
Di sisi lain, mereka berharap berbagai pihak dapat memberikan ruang bagi penyelesaian persoalan kemanusiaan yang dinilai masih menjadi perhatian masyarakat hingga saat ini. (*)
Penulis : Alvi












